"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Jumat, 31 Agustus 2018

Untukmu Yang Zalim

“Dan tetaplah kamu istiqomah sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan kepada orang-orang bersamamu yang bertaubat dan janganlah melampaui batas, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka sedang kamu tidak punya seorang penolong pun selain Allah dan kamu tidak diberi pertolongan.” (QS. Hud : 112-113).

Ayat ini adalah kabar gembira kepada kalian wahai orang-orang zalim dan orang-orang yang rukun bersama kalian. Termasuk orang-orang yang condong, mengikuti, setuju dan ridha dengan kezaliman kalian.

Dr. Sa’ad Asy-Syitsriy
, Doktor dalam bidang Ushul Fiqh, pernah menjadi anggota Hai’ah Kibaril Ulama (Lembaga Ulama Senior di Saudi Arabia), kini menjabat dosen di King Saud University (KSU), Riyadh. (Twitter : @Dr_Alshathry) - Twit Ulama 

Kamis, 30 Agustus 2018

Nikmat Yang Tak Terhingga

Sebagian salaf berkata, “Kita telah diberikan nikmat Allah yang tak terhitung, padahal maksiat yang kita lakukan amat banyak. Maka, aku tak tahu manakah yang lebih pantas aku syukuri, apakah karena kebaikan yang Allah tebarkan, atau karena kejelekan kita yang Allah tutupi.”

Syaikh Muhammad al-’Utaibi, Imam dan Pengajar di kementrian wakaf Kuwait, sedang menempuh S3 di Universitas Islam Madinah. (Twitter : @mhommad118) - Twit Ulama  

Rabu, 29 Agustus 2018

Merupakan Bagian Dari Jihad

Siapa yang mengira bahwa bersusah payah dalam menuntut ilmu bukanlah termasuk bagian dari jihad, maka akal dan pandangan orang ini tidak beres. (Abu Darda al-Anshari رَضِيَ اللََّهُ عَنْه)

Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-‘Arifi, dosen di King Saud University (KSU), Riyadh, anggota Rabithah (Ikatan) Ulama Syari’ah. (Twitter : @MohamadAlarefe) - Twit Ulama  

Selasa, 28 Agustus 2018

Indikasi Cinta Kepada Saudara

Umar bin Khattab رَضِيَ اللََّهُ عَنْه mengatakan bahwa 3 hal yang menjadi indikasi rasa cintamu pada saudaramu ialah :
1. Engkau memulai salam (apabila bertemu dengannya –pent)
2. Engkau melapangkan tempat baginya dalam majlis
3. Engkau memanggilnya dengan panggilan yang paling dia sukai

Dr. Muhammad al-Khudairi, Dosen Ulumul Qur'an di King Saud University (KSU) Saudi Arabia. (Twitter : @mkh1384) - Twit Ulama  

Senin, 27 Agustus 2018

Jika Engkau Keras Hati

Datang seseorang kepada Hasan Al-Bashri رحمه الله, “Wahai Abu Sa'id! Aku mengadukan kepadamu atas kerasnya hatiku” Beliau menjawab, “Lembutkanlah dengan dzikir”.

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Muhammad As-Sadhan, salah seorang murid Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Doktor dalam ilmu Ushuluddin Universitas Al-Imam. (Twitter : @Dr_Alsadhan) - Twit Ulama 

Minggu, 26 Agustus 2018

Akan Selamat Dari Kerusakan

Dengan tauhid, ibadah, ketaatan, amar ma’ruf, nahi munkar dan meninggalkan maksiat, kita akan ditolong –dengan izin Allah- dan tidak akan memberi mudharat kepada kita, tipu daya orang yang rusak dan para penjahat.

Dr. Ahmad Al-Kous, Khatib di Masjid Al-‘Ajeery, Cordoba. Konsultan Bidang Kerumahtanggaan di Kantor Urusan Agama Kuwait, kolumnis di Harian Al-Wathan Kuwait. (Twitter : @Ahmad_Alkous) - Twit Ulama  

Sabtu, 25 Agustus 2018

Menghadapi Kegelapan

Kegelapan ada 3 macam:
1) Kegelapan Kebodohan,
2) Kegelapan Kekufuran,
3) Kegelapan Maksiat.

Semuanya bisa dihadapi dengan:
1) Cahaya Ilmu,
2) Cahaya Iman,
3) Cahaya Istiqomah

[Syaikh Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله, Tafsir Surat Al-Baqoroh]

Syaikh Muhammad al-’Utaibi, Imam dan Pengajar di kementrian wakaf Kuwait, sedang menempuh S3 di Universitas Islam Madinah. (Twitter : @mhommad118) - Twit Ulama  

Jumat, 24 Agustus 2018

Karena Bergantung Kepada-Nya

Siapa yang menggantungkan diri pada Allah semata, Allah akan selamatkan dia dari keburukan musuh-musuhnya.

“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.” (QS. Al-Mukmin : 44-45)

Dr. Sa’ad Asy-Syitsriy, Doktor dalam bidang Ushul Fiqh, pernah menjadi anggota Hai’ah Kibaril Ulama (Lembaga Ulama Senior di Saudi Arabia), kini menjabat dosen di King Saud University (KSU), Riyadh. (Twitter : @Dr_Alshathry) - Twit Ulama    

Kamis, 23 Agustus 2018

Yang Lebih Utama

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله ditanya mengenai seorang musafir yang berpuasa di bulan Ramadhan namun safarnya tidak membuat si musafir itu merasa lapar, haus atau kelelahan. Mana yang lebih afdhal baginya, berpuasa atau berbuka?
Jawaban Ibnu Taimiyyah رحمه الله : Walaupun safarnya tidak membebani puasanya, baginya berbuka puasa lebih afdhal menurut ijma’, namun bila ia ingin berpuasa, maka itu pun boleh menurut banyak ulama.

Dr. Shalih As-Sulthan, Dosen Fakultas Syariah Universitas Al-Qashim, Saudi Arabia. (Twitter : @_salehalsultan) - Twit Ulama   

Rabu, 22 Agustus 2018

Kebaikan Itu..

Kebaikan itu :
1. Jangan sedikit pun diremehkan;
2. Segera dilakukan;
3. Jangan harap akan terulang;
4. Beri tahu orang lain untuk melakukannya.

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Muhammad As-Sadhan, salah seorang murid Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Doktor dalam ilmu Ushuluddin Universitas Al-Imam. (Twitter : @Dr_Alsadhan) - Twit Ulama     

Selasa, 21 Agustus 2018

Yang Kemudian Lenyap

Perkataan yang menakjubkan, “Segala sesuatu yang ada ini akan melahirkan yang kecil kemudian semakin membesar, kecuali musibah, musibah akan melahirkan sesuatu yang dirasa besar, kemudian mengecil dan akhirnya lenyap.”

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Muhammad As-Sadhan, salah seorang murid Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Doktor dalam ilmu Ushuluddin Universitas Al-Imam. (Twitter : @Dr_Alsadhan) - Twit Ulama  

Senin, 20 Agustus 2018

Waktu Yang Sesaat

Kehidupanmu di dunia adalah waktu sesaat engkau hidup. Apa yang sudah lewat, maka ia sudah terluput, apa yang kan datang, ia masih belum diketahui. Maka isilah kehidupanmu saat ini dengan berbagai bentuk syukur kepada Allah, inilah kunci kebahagiaan.

Asy-Syaikh Khalid bin Utsman As-Sabt, doktor dalam bidang ‘Ulumul Qur’an, dosen di Universitas Damam Jurusan Pendidikan Fakultas Studi Islam, Saudi Arabia. (Twitter : @khaled_alsabt) - Twit Ulama  

Minggu, 19 Agustus 2018

Tempat Bergantung Yang Tepat

Siapa yang menggantungkan pendapatnya pada pendapat manusia, dia akan berubah-ubah sesuai perubahan pikiran manusia yang tidak tetap. Siapa yang menggantungkan hatinya kepada Allah, niscaya akan konsisten, karena perkataan-Nya adalah kebenaran, baik kemarin, sekarang maupun esok.

Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi, Ulama yang juga menjabat sebagai Peneliti Ilmiah di Departemen Masalah Islam di Riyadh, Arab Saudi. (Twitter : @abdulaziztarefe) - Twit Ulama   

Sabtu, 18 Agustus 2018

Dia Merindui Saudaranya

Empat belas abad yang lalu dia pernah merindu, dialah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Tepat sembilan hari menjelang wafatnya turunlah firman Allah yang berbunyi :
“Dan peliharalah diri kalian dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak didzalimi.” (QS. Al Baqarah (2) : 281).

Semenjak itu raut kesedihan mulai tampak di wajah beliau yang suci. “Aku ingin mengunjungi syuhada Uhud ujar beliau”. Beliaupun pergi menuju makam syuhada Uhud, sesampainya disana beliau mendekati makam para syuhada dan berkata, “Assalamu’alaikum wahai syuhada Uhud, kalian telah mendahului kami. Insya Allah kamipun akan menyusul kalian.”
Ditengah perjalanan pulang, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis.
Para sahabat yang mendampinginya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Aku rindu kepada saudara-saudaraku.”
Mereka berkata, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah mereka yang datang sesudahku, mereka beriman kepadaku padahal mereka belum pernah melihatku.” (HR. Ahmad).

Alangkah tulus ungkapan itu..
Namun tersisa beragam tanya :
Kitakah yang dirindukan itu…?
Bila iya, Sudahkah kita merindukannya…?
Sudahkah kita beriman sehingga pantas dirindu…?
Sudahkan kita mengamalkan sunnah (ajaran) nya sebagai bukti cinta…?
Pantaskah diri yang lalai ini dirindukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam…?

Sahabat, mari kita amalkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Agar kita semua termasuk kedalam golongan orang yang dirindukan oleh baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam..
Aamiin. (DPUDT Semarang).  

Makanan Hati

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah رحمه الله berkata, “Sesungguhnya syariat ini adalah makanan bagi hati, maka ketika hati ini dipenuhi dengan bid’ah tidak lagi tersisa tempat untuk sunnah dan jadilah hati rusak seperti orang yang selalu diberi makan dengan makanan yang buruk.
[Iqtidha Shrathal Mustaqiim : 1/104]

Syaikh Salim Al-Thawil, salah seorang murid Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Twitter : @saltaweel) - Twit Ulama 

Jumat, 17 Agustus 2018

Doa Yang Dipanjatkan Khalifah

Salah satu doa yang diucapkan Umar bin Khattab رَضِيَ اللََّهُ عَنْه adalah:

اللهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا، وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا، وَلاَ تَجْعَل لأَِحَدٍ فِيْهِ  شَيْئًا

“Ya Allah jadikanlah seluruh amalan-amalanku yang shalih, dan jadikanlah amalan-amalanku itu ikhlas hanya mengharap wajah-Mu semata, dan janganlah Engkau jadikan amalan-amalanku itu untuk mengharapkan keridhaan seorang pun.”

(Ibnu Taimiyyah رحمه الله; Iqtidha' ash-Shirat al-Mustaqim 2/373)

Dr. Shalih As-Sulthan, Dosen Fakultas Syariah Universitas Al-Qashim, Saudi Arabia. (Twitter : @_salehalsultan) - Twit Ulama   

Khilafah Merangkai

Apa yang membuat kita marah tatkala mendengar salah satu pulau kita ingin direbut oleh Malaysia, sementara kita biasa saja tatkala melihat fakta tanah Palestina direbut oleh Israel hingga 90%-nya?
Apa yang membuat kita marah tatkala batik dan tarian tradisional kita diakui oleh negara jiran, tapi kita tidak semarah itu tatkala menyaksikan jiwa-jiwa teregang di Suriah karena kedzaliman penguasanya?
Apa yang membuat kita berkomentar; "Itu kan urusan negeri lain, urusin aja negerimu sendiri!", "itu bukan urusan kita kok!"
Itulah nasionalisme, Itulah sekarang.
Dahulu, Arab menggunakan nasionalisme serta ikatan kesukuan untuk memisahkan diri mereka dari Khilafah Islam yang mereka klaim negaranya orang Turki.
Disaat yang sama, nasionalisme ditanamkan pada Turki sehingga mereka berpikir hanya untuk kaumnya sendiri.
Padahal ikatan kekauman, kesukuan, kebangsaan, telah Allah gantikan dengan ikatan ukhuwah Islam. Ikatan yang tak memandang suku, bangsa, kaum, namun hanya mempertimbangkan satu Tuhan, maka mereka saudara.
Ikatan Islam itu yang dulu pernah menyatukan Aus dan Khazraj yang bermusuhan 150 tahun lebih lamanya, ikatan itu yang menyatukan seluruh Jazirah Arab, juga menyatukan daerah-daerah yang dibebaskan panglima-panglima terbaik, menjadi satu kesatuan, Khilafah Islam.
Maka ikatan ini yang dulu menyatukan Andalusia, Syria, Maghrib, Syam, Jazirah, Anatolia, India, Balkan juga Nusantara, menjadi satu kesatuan padu yang tidak terpisahkan.
Sudah umum diketahui, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, dahulu ikatan ukhuwah Islam menyatukan seluruh kaum Muslim, sekarang kita dipecah-pecah nasionalisme.
Cinta negeri bukan sesuatu yang dilarang, kita mencintai Indonesia, sebagaimana Rasul mencintai Makkah, namun cinta kepada Allah ta'ala, itu yang mengikat seluruh kaum Muslim dimanapun adanya.
Itulah, Ukhuwah Islam yang Menyatukan.

Kamis, 16 Agustus 2018

Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه Umat Terbaik

Almanhaj. Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan keutamaan yang lebih bagi sebagian Nabi dan Rasul diatas yang lainnya. Para Nabi dan rasul yang termasuk ulul ‘azmi lebih utama disisi Allâh Azza wa Jalla dari para rasul yang lainnya, begitu pula para Sâbikûnal Awwalûn (para pendahulu kita) yang berasal dari kalangan Muhajirin dan Anshar lebih utama disisi Allâh Azza wa Jalla bila dibandingkan dengan selain mereka. Mereka semua adalah para wali Allâh Azza wa Jalla dan tempat mereka di syurga, dan Allâh Azza wa Jalla telah mengangkat derajat sebagian mereka diatas sebagian yang lain.
Induk semua keutamaan adalah ilmu, agama, keberanian dan kedermawanan. Siapapun yang lebih baik atau lebih utama daripada yang lain, maka pasti dia lebih banyak ilmunya, baik dari kalangan nabi dan shahabat ataupun dari kalangan yang lain. Dan memang, pokok dari segala keutamaan adalah ilmu. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Katakanlah, "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" [az-Zumar/39:9]

Banyak sekali hadist-hadist dan dalil dalil lainnya yang membuat kita harus mengakui bahwa Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه merupakan shahabat yang paling dicintai oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Radhiyallahu anhu , disisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih baik daripada Umar bin Khattab رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, Ustmân bin ‘Affan رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, Ali bin Abu Thalib رَضِيَ اللََّهُ عَنْه dan para shahabat lainnya. Semua orang yang memahami tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga keadaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pasti mengetahui fakta tentang Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه ini. Semakin banyak ilmunya tentang sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan semakin mengerti keutamaan Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. Yang masih ragu akan keutamaan beliau hanyalah orang yang tidak bisa membedakan antara hadist shahih dan hadits lemah. Orang seperti ini, terkadang terjebak dalam salah satu dari dua keadaan ekstrem, antara mempercayai semua yang disebut hadits oleh orang atau menolak semuanya.

Diantara hadist-hadist yang shahih tentang hal ini adalah hadist yang dikeluarkan oleh al-Bukhâri dan Muslim, dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, beliau berkata :
كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Ketika zaman Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (masih hidup) kami sering mengatakan fulan lebih baik daripada fulan. Kami mengatakan Abu Bakar lebih baik, kemudian Umar bin al-Khattab, kemudian Utsman bin ‘Affan[1]

Dalam riwayat lain Imam al-Bukhari :
كُنَّا زَمَنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا نَعْدِلُ بِأَبِي بَكْرٍ أَحَدًا ، ثُمَّ عُمَرَ، ثُمَّ عُثْمَانَ

Pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (masih hidup), kami tidak menyamakan seorang pun dengan Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman. [2]

Imam Tirmizi dan yang lainnya meriwayatkan sebuah hadits secara marfû’ dari Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma sedang berjalan menuju Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
هَذَانِ سَيِّدَا كُهُوْلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ مِنَ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ إِلاَّ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ لاَ تُخْبِرْهُمَا يَا عَلِيُّ

Dua orang ini merupakan dua tokoh tua[3] penduduk surga dari orang-orang yang terdahulu sampai yang terakhir. Wahai Ali! Janganlah kamu beritahukan hal ini kepada mereka.[4]

Di dalam kitab Shahih: bahwasanya tatkala jenazah Umar diletakkan, Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه datang menyela shaf para shahabat kemudian berkata :
إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ فَإِنِّي كَثِيرًا مَا كُنْتُ أَسْمَعُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَدَخَلْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
Aku berharap Allâh mempersatukanmu dengan dua shahabatmu (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu anhu ), Sesungguhnya aku sering mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku pergi dengan Abu Bakar dan Umar.[5]

Hadist ini menerangkan betapa mereka berdua sering menemani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disaat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk, keluar, atau pun pergi. Oleh karena itu, Imam Malik t berkata kepada Harun ar-Rasyîd yang bertanya, “Beritahukanlah padaku kedudukan Abu Bakar dan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه disisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Imam Mâlik berkata, “Wahai amirul Mukminin, kedudukan mereka berdua tatkala Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup sama seperti kedudukan mereka tatkala Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat.” (Mendengar ini) ar-Rasyid pun berkata, “Kamu telah menyembuhkanku, Wahai Malik! Kamu telah menyembuhkanku, Wahai Malik!”

Dalam sebuah riwayat yang mutawatir dari Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, dijelaskan bahwa Ali bin Abi Thalib رَضِيَ اللََّهُ عَنْه berkata :
خَيْرُ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُوْ بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ
Orang terbaik ummat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar kemudian Umar

Riwayat dibawakan melalui jalur periwayatan yang sangat banyak, bahkan ada yang mengatakan jalur periwayatannya mencapai delapan puluh jalur.
Imam al-Bukhâri juga meriwayatkan dalam kitab Shahîh beliau t dari jalur para hamdaniyiin (orang yang berasal dari qabilah Hamdan) yang merupakan orang-orang terdekat Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. Kedekatan ini tergambar dalam perkataan Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, “Seandainya aku penjaga pintu surga, niscaya aku akan katakan kepada orang-orang Hamdan, masuklah kedalam surga”
Imam al-Bukhâri membawakan riwayat lewat jalur Sufyân at-Tsauri rahimahullah yang berasal dari qabilah Hamdan, dari Mundzir yang juga berasal dari qabilah Hamdan, dari Muhammad bin al-Hanafiyah, dia berkata: saya berkata kepada bapakku :
أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ عُمَرُ
Siapakah manusia yang paling utama setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Dia menjawab, “Abu Bakar.” Aku bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Bapakku menjawab,”Kemudian umar”[6]

Ucapan ini, beliau sampaikan kepada anaknya, saat mereka berdua, dan ini tidak mungkin diucapkan dalam rangka taqiyah. Perawi menyampaikan atsar tersebut langsung dari bapaknya dan diucapkan di atas mimbar serta diriwayatkan bahwasanya dia mendengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan tentu Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه tidak akan memastikan hal tersebut (keutamaan Abu Bakar ) kecuali berdasarkan ilmu, sesuai dengan kedudukan Beliau Radhiyallahu anhu. Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه merupakan salah seorang sahabat yang paling tahu tentang Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه dan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, serta paling mengerti kedudukan mereka berdua dalam Islam. Bahkan diriwayatkan Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه berharap amalan Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه tatkala meninggal dunia seperti amalan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. Semoga Allâh Azza wa Jalla meridhai mereka semua. Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه juga memberi nama kedua anaknya dengan dengan nama Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه dan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه.

Ali Radhiyallahu anhu juga pernah mengatakan :
لاَ أُوْتِـيَ بِأَحَدٍ يُفَضِّلُـنِيْ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ إِلاَّ جَلَّدْتُهُ حَدَّ الْمُفْتَرِي
Tidaklah didatangkan kepadaku seseorang yang lebih megutamakanku daripada Abu Bakar dan Umar melainkan akan saya cambuk dia sebagaimana hukuman pendusta[7]

Perkataan beliau ini tidak disampaikan bukan karena tawaddu’, sebab tidak boleh seorang yang tawaddu’ menjatuhkan hukuman kepada orang mengutamakannya dengan cara benar dan tidak boleh pula memberi gelar pendusta kepada orang tersebut.
Dalam hadist mutawatir lainnya dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma bahwa beliau Radhiyallahu anhuma lebih mengutamakan Abu Bakar dan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه  daripada Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه.
Ibnu Batthah rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya, beliau berkata, ”Saya mendengar Laits bin Abi Salîm berkata, ‘Saya mendapati orang-orang Syi’ah generasi awal tidak lebih mengutamakan seorangpun melebihi Abu Bakar dan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه.
Berkata Syuraik bin Abi Namir, seseorang berkata kepada Laist bin Abi Salîm, “Siapa yang lebih utama Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه atau Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه?” Dia berkata, “Abu Bakar.”
Si penanya tersebut berkata lagi, “Apakah kamu mengatakan seperti ini padahal kamu berasal kalangan Syi’ah?” Dia berkata, “Ya, orang Syi’ah adalah orang yang mengatakan seperti ini. Sungguh telah naik ke mimbar ini (mimbar masjidnya di Kufah) kemudian ia berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya sebaik-baik ummat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. Apakah kita akan menolak perkataannya? Apakah kita akan mendustakannya? Demi Allâh! Dia bukanlah pendusta. al-Qhâdi Abdul Jabbar menyebutkan riwayat ini dan beliau menyandarkannya kepada kitab Abil Qâsim al-Balkhi.[8]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata setelah menyebutkan ayat :
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Janganlah engkau bersedih! Sesungguhnya Allâh bersama kita [at-Taubah/9:40]

(saat membantah sebagian syubhat yang dilontarkan oleh orang yang membenci dan mencela Abu Bakar Radhiyallahu anhu yang mengatakan bahwa ayat di atas mengisyaratkan celaan kepada Abu Bakar Radhiyallahu anhu yang takut). Beliau rahimahullah mengatakan, “Tidak ada pada ayat tersebut isyarat yang menunjukkan bahwa Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, Utsman رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, atau selain mereka yang lebih utama daripada Abu Bakar Radhiyallahu anhu, karena mereka semua sedang tidak bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kondisi genting ini. Seandainya mereka pada saat itu sedang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , keadaan mereka belum tentu lebih baik daripada keadaan Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. Yang sudah diketahui dari berbagai keadaan Beliau Radhiyallahu anhu dan keadaan mereka disaat-saat mencekam, Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه selalu lebih baik keyakinan dan kesabarannya. Tatkala ada berbagai faktor yang bisa menimbulkan keraguan (yang menyebabkan banyak orang meragukan kebenaran syari’at Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) Abu Bakar as-shiddîq z tampil sebagai pribadi yang paling yakin dan tenang. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disakiti oleh sebab keraguan tersebut, beliau Abu Bakar Radhiyallahu anhu merupakan orang yang paling taat demi keridhaan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan yang paling jauh dari segala hal yang bisa menyakiti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Keadaan ini sudah diketahui oleh semua orang yang mempelajari keadaan para shahabat disaat Nabi masih hidup dan juga setelah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.[9]

Setiap Pujian Dalam Al-Qur'an, Maka Abu Bakar Masuk Di Dalamnya
Secara umum, setiap kata Mukmin, Muttaqin dan Muhsinin yang ada dalam al-Qur’an serta pujian untuk mereka, maka Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه merupakan orang pertama yang masuk dalam ayat tersebut, bahkan Beliau Radhiyallahu anhu menjadi yang terbaik diantara orang-orang yang masuk dalam ayat tersebut, sebagai mana yang masyhur dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat menjelaskan generasi terbaik. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelahnya, dan setelahnya[10]

Diantara contoh pujian yang terdapat dalam al-Qur’an adalah :
Pertama :

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. [az-Zumar/39:33]

Yang masyhur dikalangan ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan orang yang datang dengan membawa kebenaran adalah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang membenarkannya (mengimaninya) adalah Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. Pendapat ini disebutkan oleh sejumlah Ulama, disebutkan juga oleh at-Thabari rahimahullah dengan sanadnya yang bersambung sampai ke Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه.[11] Sebagian diantara mereka menyebutkan sebuah kisah dari Abu Bakar Abdul Aziz bin Ja’far pembantu Abu Bakar al-Khallal: bahwasanya seseorang bertanya tentang ayat ini, maka Abu Bakar bin Ja’far menjelaskan kepada orang tersebut atau kepada sebagian orang yang hadir bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Abu Bakar. Orang yang bertanya tersebut berkata lagi, “Bukankah berkenaan dengan Ali?” Maka Abu Bakar bin Ja’far berkata, “Bacalah ayat setelahnya :

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴿٣٣﴾ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ ذَٰلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ ﴿٣٤﴾ لِيُكَفِّرَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي عَمِلُوا وَيَجْزِيَهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Rabb mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik, agar Allâh akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [az-Zumar/39:33-35]

Maka si penanyapun terdiam[12] .

Lafazh ayat tersebut mutlak atau umum tidak dikhususkan pada Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه atau Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, siapapun yang masuk dalam keumuman ayat tersebut masuk dalam hukum ayat tersebut. Dan tidak diragukan lagi, Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, Utsman رَضِيَ اللََّهُ عَنْه dan Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه merupakan orang-orang yang paling berhak masuk dalam ayat tersebut. Namun ayat tersebut tidak khusus hanya untuk mereka. Pujian dalam ayat tersebut mencakup semua shahabat, karena mereka semua datang dengan kejujuran dan keimanan. Mereka adalah penduduk bumi yang paling berhak untuk masuk dalam ayat tersebut.

Kedua : Firman Allâh Azza wa Jalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar [at-Taubah/9:119]

Abu Bakar Radhiyallahu anhu adalah shiddiq , berdasarkan dalil yang sangat banyak. Jika demikian kenyataannya, maka tentu Beliau Radhiyallahu anhu masuk dalam kandungan ayat ini, bahkan Beliau Radhiyallahu anhu lebih utama daripada shahabat lainnya untuk dimasukkan dalam kandungan ayat di atas.

Ayat ini diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla berkenaan dengan Ka’ab bin Mâlik رَضِيَ اللََّهُ عَنْه ketika tidak ikut serta dalam perang Tâbûk. Namun saat ditanya oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang penyebab absennya dia dari peperangan tersebut, dia menjawab pertanyaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jujur dan menyatakan bahwa dia tidak memiliki udzur syar’i untuk tidak ikut berperang. Lalu dia bertaubat dan Allâh menerima taubatnya berkat kejujurannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[13]

BEBERAPA HAL MULIA TERKUMPUL PADA ABU BAKAR DALAM SATU HARI
Disebutkan dalam hadits shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya :

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا،
قَالَ: فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا،
قَالَ: فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا،
قَالَ: فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا،
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ، إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapakah diantara kalian yang puasa pada hari ini?” Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Saya.”
Nabi bertanya, “Siapakah diantara kalian yang mengiringi atau mengantarkan (pemakaman) jenazah pada hari ini?” Abu Bakar menjawb, “Saya.”
Nabi bertanya lagi, “Adakah diantara kalian yang memberikan makan kepada orang miskin hari ini?” Abu Bakar menjawb, “Saya.”
Nabi bertanya lagi, “Adakah diantara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?” Abu Bakar berkata, “Saya.” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah kebaikan-kebaikan ini berkumpul pada seseorang kecuali dia akan masuk syurga”[14]

Adakah riwayat semisal ini yang berkenaan dengan shahabat yang lain?! Ini menunjukkan keutamaan Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. sungguh ironis, shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebaik ini masih dicela oleh orang-orang yang mengaku cinta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti ajaran Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , padahal Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه dengan tegas menyatakan bahwa Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه termasuk penduduk surga.

ABU BAKAR RADHIYALLAHU ANHU ORANG PERTAMA MASUK SURGA DARI UMAT INI
Abu Daud meriwayatkan dalam sunannya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه :

أَمَا إِنَّكَ يَا أبَا بَكْرٍ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي

Adapun kamu, sesungguhnya kamu wahai Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk surga dari umat ini[15]

Ahlussunah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa semua shahabat yang ikut serta dalam perang Badar masuk surga, begitu juga Ummahatul Mukminin, seperti Aisyah x dan yang lainnya, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, dan Zubair Radhiyallahu anhum. Mereka semua adalah tokoh-tokoh penduduk surga setelah para nabi.[16]

ABU BAKAR DIPANGGIL DARI SEMUA PINTU SURGA
Dalam Shahîhain disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللهِ هذَا خَيْرٌ؛ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ
فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رضي الله عنه: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، يَا رَسُولَ اللهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ: نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menginfakkan sesuatu yang berpasangan dijalan Allâh, maka dia akan dipanggil dari beberapa pintu surga. (Penjaga mengatakan), “Wahai hamba Allâh, ini lebih baik.”
Barangsiapa yang selalu melaksanakan shalat, maka akan dipanggil dari pintu shalat.
Barangsiapa termasuk orang-orang pernah berjihad, maka akan dipanggil dari pintu jihad.
Barangsiapa gemar bersedekah, maka akan dipanggil dari pintu sedekah.
Barangsiapa tekun berpuasa, maka dipanggil dari pintu puasa dan pintu Rayyân.
Maka Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Rasûlullâh! Seseorang tidak perlu dipanggil dari semua pintu , adakah orang yang dipanggil dari semua pintu? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, dan aku berharap kamu termasuk dari mereka wahai Abu Bakar”[18]

Subhânallâh, alangkah besar nikmat yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada pribadi Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه.

Sungguh orang seperti ini sangat tidak pantas mendapatkan cela, apalagi celaannya hanya berdasarkan cerita-cerita bohong atau tidak jelas asal usulnya.

(Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari kitab Abû Bakrin ash-Shiddîq Afdhalus Shahâbah wa Ahaqquhum bil Khilâfah)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XVII/1435H/2014M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Riwayat al-Bukhâri
[2]. Riwayat al-Bukhâri
[3]. Ini diungkapkan dengan menggunakan istilah saat mereka berada di dunia, karena di surga tidak ada yang tua
[4]. HR at-Tirmizdi ( 4/310)
[5]. Riwayat al-Bukhâri dan Muslim
[6]. Riwayat al-Bukhâri
[7]. Lihat, Manâkib al-‘Asyrah ( 1/401), Fadâil as-Shahâbah ( 1/83)
[8]. Abu Manshûr menyebutkan adanya ijmâ’ umat tentang orang terbaik setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakr رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, kemudian Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, kemudian Utsmân رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, kemudian Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, kemudian sepuluh orang shahabat yang diberi kabar masuk surga, kemudian para shahabat yang ikut dalam perang Badr, kemudian yang ikut perang Uhud, kemudian yang ikut Bai’ah Ridwân, kemudian para shahabat lainnya (Lihat Târîkh khulafâ’ karya Imam Suyûthi, hlm. 44)
[9]. Lihat Minhâj as-Sunnah, (3/161, 162, 165, 246) dan (2/182) dan Majmû’ Fatâwâ ( 4/421-426) dan ( 1/224 )
[10]. HSR al-Bukhâri
[11]. Beliau berkata, “Aku diberitahu oleh Ahmad bin Manshûr, dia berkata, ‘Kami dikabari Ahmad bin Mis’ad al-Marwazi, kami dikabari oleh Umar bin Ibrâhîm bin Khâlid, dari Abdul Malik bin Umair, dari Usaid bin Shafwân, dari Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه tentang firman Allâh : وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ (yang datang dengan membawa kebenaran ), Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه berkata, ‘Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam “ dan وَصَدَّقَ بِهِ (dan yang membenarkannya), Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه berkata, “Maksudnya adalah Abu Bakr.”-Dari tafsir Ibnu Jarîr rahimahullah
[12]. Aku berkata: penanya beranggapan ali besar didalam islam, dan tidak menemukan masa jahiliyah
[13]. Lihat Minhaj as-Sunnah, ( 1/214 ) (4/276, 51-53, 72 )
[14]. HSR Muslim
[15]. Abu Daud ( 4/295 )
[16]. Minhâj as-Sunnah ( 4/45 )
[17]. Karena dipanggil dari satu pintu saja sudah cukup untuk menggapai tujuan yaitu masuk surga
[18]. HSR al-Bukhâri dan Muslim dari Abi Hurairah رَضِيَ اللََّهُ عَنْه

Tidak Akan Ada Perubahan

Sunatullah yang sudah berjalan, bahwa siapa yang menerjang perbuatan maksiat, dan terus menerus menimbulkan gangguan, maka dia akan dihukum dengan keras, dan tidak ada perubahan pada sunatullah, “Sunatullah yang berlaku pada orang-orang terdahulu dan engkau tak kan melihat perubahan pada sunatullah” (QS. al-Ahzab : 62)

Dr. Sa’ad Asy-Syitsriy, Doktor dalam bidang Ushul Fiqh, pernah menjadi anggota Hai’ah Kibaril Ulama (Lembaga Ulama Senior di Saudi Arabia), kini menjabat dosen di King Saud University (KSU), Riyadh. (Twitter : @Dr_Alshathry) - Twit Ulama   

Rabu, 15 Agustus 2018

Islam Pembawa Kabar Gembira

Agama kita adalah agama yang membawa kabar gembira, demikianlah seharusnya seorang mukmin, senantiasa gembira dan membawa kabar gembira bagi saudara-saudaranya sesama mukmin. Bukan yang selalu membawa kesedihan dan ketakutan seperti perbuatan syaithan.

Dr. Ahmad Hammud al-Jassar; Imam dan Khotib di Masjid Kuwait, Ketua Dewan Pembina Lembaga Studi Qur'an di Kuwait, Doktor Teknik Sipil di Universitas Kuwait. (Twitter : @DrAAljassar) - Twit Ulama   

Hukum Shalat Di Belakang Ahlul Bid'ah

Ahlus Sunnah menganggap shalat berjama’ah di belakang imam baik yang shalih maupun yang fasik dari kaum Muslimin adalah sah. Dan menshalatkan siapa saja yang meninggal di antara mereka.[Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 529) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin at-Turki]
Dalam Shahiihul Bukhari [Shahiihul Bukhari (no. 1660, 1662, 1663)] disebutkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma pernah shalat dengan bermakmum kepada al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Padahal al-Hajjaj adalah orang yang fasik dan bengis [Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi seorang amir yang zhalim, dia menjadi amir di Irak selama 20 tahun, dan dialah yang membunuh ‘Abdullah bin Zubair bin ‘Awam di Makkah. Hajjaj mati tahun 95 H. Lihat Taqriibut Tahdziib (I/190, no. 1144) dan Tahdziibut Tahdziib (II/184-186), oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani]. ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma adalah seorang Sahabat yang sangat hati-hati dalam menjaga dan mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan al-Hajjaj bin Yusuf adalah orang yang terkenal paling fasik. Demikian juga yang pernah dilakukan Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu yang bermakmum kepada al-Hajjaj bin Yusuf. Begitu juga yang pernah dilakukan oleh beberapa Sahabat Radhiyallahu anhum, yaitu shalat di belakang al-Walid bin Abi Mu’aith. [Lihat Shahiih Muslim (no. 1707)]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda :

يُصَلُّوْنَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَأُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ
“Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka benar, kalian dan mereka mendapatkan pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala sedangkan mereka mendapat dosa”. [HR. Al-Bukhari (no. 694) dan Ahmad (II/355, 537), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Imam Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullah pernah ditanya tentang boleh atau tidaknya shalat di belakang ahlul bid’ah, beliau menjawab: “Shalatlah di belakangnya dan ia yang menanggung dosa bid’ahnya.” Imam al-Bukhari memberikan bab tentang perkataan Hasan al-Bashri dalam Shahiihnya (bab Imamatul Maftuun wal Mubtadi’ dalam Kitaabul Aadzaan).
Ketahuilah bahwasanya seseorang boleh shalat bermakmum kepada orang yang tidak dia ketahui bahwa ia memiliki kebid’ahan atau kefasikan berdasarkan kesepakatan para ulama.
Ahli bid’ah maupun pelaku maksiyat, pada asalnya shalatnya adalah sah. Apabila seseorang shalat bermakmum kepadanya, shalatnya tidak menjadi batal. Namun ada ulama yang menganggapnya makruh. Karena amar ma’ruf nahi munkar itu wajib hukumnya. Di antaranya bahwa orang yang menampakkan kebid’ahan dan kefasikannya, jangan sampai ia menjadi imam rutin (rawatib) bagi kaum Muslimin.
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Bahwa shalat di belakang orang yang fasik dan pemimpin yang zhalim, sah shalatnya. Sahabat-sahabat kami telah berkata: ‘Shalat di belakang orang fasik itu sah tidak haram akan tetapi makruh, demikian juga dimakruhkan shalat di belakang ahli bid’ah yang bid’ahnya tidak sampai kepada tingkat kufur (bid’ahnya tidak menjadikan ia keluar dari Islam). Tetapi bila bid’ahnya adalah bid’ah yang menyebabkan ia keluar dari Islam, maka shalat di belakangnya tidak sah, sebagaimana shalat di belakang orang kafir.’ Dan Imam asy-Syafi’i rahimahullah menyebutkan dalam al-Mukhtashar bahwa makruh hukumnya shalat di belakang orang fasiq dan ahlu bid’ah, kalau dikerjakan juga, maka shalatnya tetap sah, dan inilah pendapat jumhur ulama.” [Diringkas dari al-Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab (IV/253) oleh Imam Nawawi, cet. Daarul Fikr]
Menshalatkan seorang Muslim yang meninggal dunia hukumnya fardhu kifayah, tetapi apabila seorang Muslim tersebut adalah ahlul bid’ah dan pelaku maksiyat, maka para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Menurut pendapat jumhur ulama, dia boleh dishalatkan. Dalam hal ini dikecualikan para pemberontak, perampok, munafiq, dan orang yang mati bunuh diri. Sebagai pelajaran bagi yang lainnya, adapun orang munafiq, tidak boleh dishalatkan dengan dasar firman Allah al-Hakiim :

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ
“Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik”. [QS. At-Taubah : 84]. 
[Lihat pembahasan ini dalam Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 529-537) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki, Mauqif Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah min Ahlil Ahwaa’ wal Bida’ (hal. 343-371), al-Imaamah fish Shalaah fii Dhau-il Kitaab was Sunnah (hal. 42-48) oleh Dr. Sa’id bin Wahf al-Qahthani]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]

Sumber : almanhaj.or.id   

Selasa, 14 Agustus 2018

Dengan Adab Yang Baik

Adab yang baik adalah tanda kebahagiaan dan kesuksesan seseorang, sebaliknya adab yang buruk adalah tanda celaka dan keburukan seseorang. Tidak ada kebaikan dunia dan akhirat yang diberikan kepada seseorang selain adab yang baik. Adab kepada Allah, adab kepada Rasul-Nya, adab kepada hamba-hamba-Nya.

Fadhilatus Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali. (Twitter : @rabee_almadkhli) - Twit Ulama  

Senin, 13 Agustus 2018

Hasil Membaca Dengan Benar

“Membaca al-Qur'an dengan cara yang benar seperti yang diperintahkan akan mewariskan ilmu, keimanan dan keyakinan pada hati seorang muslim yang mana hal tersebut takkan dijumpai oleh siapapun kecuali yang membaca al-Qur'an dengan benar.” [Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah رحمه الله]

Dr. Abdul Muhsin Al-Muthiri, Doktor dalam bidang tafsir, Fakultas Syari’ah Universitas Kuwait. (Twitter : @q8azm) - Twit Ulama  

Minggu, 12 Agustus 2018

Akal Dan Nafsu

Akal dan nafsu itu senantiasa bertikai di dalam diri manusia. Bila akal yang menang maka nafsu manusia dapat dikendalikan, dan bila nafsu yang menang maka akal manusia akan terbujuk (untuk menuruti hawa nafsu).

Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi, Ulama yang juga menjabat sebagai Peneliti Ilmiah di Departemen Masalah Islam di Riyadh, Arab Saudi. (Twitter : @abdulaziztarefe) - Twit Ulama 

Sabtu, 11 Agustus 2018

Doa Dalam Awal Surat

Di antara doa yang paling ringkas dan paling bermanfaat untuk seorang hamba adalah, “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS. al-Fatihah : 6) oleh karena itu seorang manusia wajib memintanya dalam setiap raka’at sholatnya, karena pentingnya permintaan tersebut.

Dr. Muhammad Al-Habdan, anggota Rabithah Ulama’ Al-Muslimin (Ikatan Ulama Muslimin).(Twitter : @dr_alhabdan) - Twit Ulama   

Jumat, 10 Agustus 2018

Kisah Musa Dalam Qur’an

….Dan kamu (Musa) pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kegelisahan” (QS. Thaha : 40), (Firaun berkata –pent), “Niscaya akan kamu bunuh anak-anak laki-laki mereka (Bani Israil)” (QS. al-A’raaf  : 127).

Demikianlah, membunuh seseorang akan membuat gelisah hati orang yang memiliki fitrah yang bersih. Adapun orang yang zalim dan melampaui batas, akan menakut-nakuti manusia dengan pembantaian massal untuk menghilangkan rasa gelisah dari hati mereka.

Dr. Suleman Al-Ruba'i; Kepala Jurusan Aqidah dan Madzhab Kontemporer Fakultas Syari'ah dan Ilmu Islam Universitas Qosiim. (Twitter : @sulemanalrobei) - Twit Ulama  

Kamis, 09 Agustus 2018

Meninggalkan Kebaikan Sebelum Kematian

Sesungguhnya Kami yang menghidupkan orang mati dan Kami kan mencatat pula bekas amalnya (QS. Yasin : 12). Maka wahai saudaraku, tinggalkanlah bekas-bekas kebaikan sebelum kematianmu walaupun sekedar menyumbang satu mushaf al-Qur'an di sebuah masjid.

Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-‘Arifi, dosen di King Saud University (KSU), Riyadh, anggota Rabithah (Ikatan) Ulama Syari’ah. (Twitter : @MohamadAlarefe) - Twit Ulama   

Rabu, 08 Agustus 2018

Dalam Memberi Nasehat

Berkata penyair Ahmad Raafiq al-Libby, “Apabila batin seorang hamba mencintai Allah, akan nampak pada dirinya kecintaan Allah. Apabila lurus niat seorang pemberi nasihat karena Allah, akan senang kepadanya hamba-hamba Allah.”

Dr. Ali asy-Syubaili, dosen di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud. (Twitter : @Ali_alshobaili) - Twit Ulama   

Selasa, 07 Agustus 2018

Penyimpangan Aqidah

Penyimpangan akidah yang biasa dilakukan sebagian jamaah haji perlu bantuan penanganan khusus dari tim polisi Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar. Contohnya adalah apa yang terjadi di Jabal Arafah (Jabal Rahmah, banyak Jamaah haji yang yakin kalau menaruh fotonya dan pasangannya, maka cintanya kan langgeng –pent)

Dr. Muhammad Sa’id Al-Qahthani, pernah menjabat dosen mata kuliah Aqidah dan Madzhab Pemikiran Kontemporer di Universitas Ummul Qura, Saudi Arabia. (Twitter : @Dr_malqahtani) - Twit Ulama  

Senin, 06 Agustus 2018

Untukmu, Wahai Wanita.

Wahai wanita-wanita yang mulia, tidak diperbolehkan bagi kalian memajang gambar-gambar wanita kafir/fasik sebagai hiasan, padahal engkau lebih mulia dari gambar-gambar tersebut. Apakah engkau tahu bahwa engkau kan mendapatkan dosa setiap ada lelaki yang melihat gambar-gambar tersebut? Makah jauhilah perbuatan tersebut karena ta'at kepada Allah.

Syaikh Abdurrahman bin Shalih As-Sudais, penulis kitab-kitab ilmiah diantaranya Syarh ‘Aqidah Ath-Thahawiyah. (Twitter : @assdais) - Twit Ulama   

Minggu, 05 Agustus 2018

Ketika Banyak Kedzhaliman

Membuang-buang waktu kerja dengan mengobrol, buka-buka internet yang menyebabkan pelayanan masyarakat terbengkalai dan terlambat sama dengan zhalim. Hal ini juga merupakan sebab hilangnya barokah harta. Banyak kezhaliman akan dibalas dengan hukuman yang segera di dunia, (berhati-hatilah –pent)

Syaikh Abdurrahman bin Shalih As-Sudais, penulis kitab-kitab ilmiah diantaranya Syarh ‘Aqidah Ath-Thahawiyah. (Twitter : @assdais) - Twit Ulama   

Sabtu, 04 Agustus 2018

Setelah Berpaling Dari Kebenaran

Orang yang berpaling dari kebenaran setelah mengetahuinya amat jarang mau kembali rujuk kepada kebenaran, “Bagaimana Allah akan memberi petunjuk kepada kaum yang kafir sesudah mereka beriman?” (QS. Ali Imran : 86).

Bahkan, karena kerasnya penentangan mereka terhadap kebenaran, terkadang mereka lebih getol memusuhi kebenaran dibandingkan orang-orang batil (yang belum tahu kebenaran –pent)

Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi, Ulama yang juga menjabat sebagai Peneliti Ilmiah di Departemen Masalah Islam di Riyadh, Arab Saudi. (Twitter : @abdulaziztarefe) - Twit Ulama  

Jumat, 03 Agustus 2018

Yang Menimpa Umat

Di antara musibah yang besar yang menimpa umat Islam adalah ketika kehormatan Nabi kita yang mulia dijatuhkan. Akan tetapi, bersamaan dengan itu Allah berfirman, “Jangan engkau kira itu buruk bagimu, bahkan itu baik bagimu” (QS. an-Nur : 11).

Dr. Ahmad Hammud al-Jassar; Imam dan Khotib di Masjid Kuwait, Ketua Dewan Pembina Lembaga Studi Quran di Kuwait, Doktor Teknik Sipil di Universitas Kuwait. (Twitter : @DrAAljassar) - Twit Ulama   

Kamis, 02 Agustus 2018

Kabar Gembira Untuk Yang Sakit

Kabar gembira bagi mereka yang sakit, Allah berfirman, “Tidakkah engkau tahu bahwa sesungguhnya hamba-Ku si Fulan sedang sakit, seandainya engkau menjenguknya, niscaya kau akan dapati bahwa Aku berada di sisinya” (HR. Muslim).

Maka Dia berada di sisi orang yang sedang diuji dengan sakit sebagai bentuk kasih sayang-Nya dan dekat-Nya Dia dengan orang yang sakit. (Ibnul Qayyim رحمه الله)

Dr. Abdul ‘Aziz alu Abdul Latif, dosen Jurusan Aqidah Universitas Al-Imam, anggota lembaga editorial dan pusat penelitian dan studi Majalah al-Bayan. (Twitter : @dralabdullatif) - Twit Ulama    

Rabu, 01 Agustus 2018

Waktu Berdoa Yang Dianjurkan

Ibnu Taimiyyah رحمه الله : Dibolehkan berdoa dalam shalat istikharah atau selainnya pada waktu sebelum salam maupun setelah salam. Namun doa sebelum salam lebih afdhal (utama), karena nabi ﷺ banyak berdoa sebelum salam.

Dr. Shalih As-Sulthan, Dosen Fakultas Syariah Universitas Al-Qashim, Saudi Arabia. (Twitter : @_salehalsultan) - Twit Ulama 

Salaf dan Taubat

Setiap Bani Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat kepada Allah. Demikianlah yang disebutkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih. Generasi salaf adalah orang yang terdepan dalam masalah ini!
‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata: “Beruntunglah bagi orang yang buku catatan amalnya banyak diisi dengan istighfar.”
Al-Hasan Al-Bashri pernah berpesan: “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan!”

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Baca selengkapnya di almanhaj.or.id